Lalu mengapa para pejabat publik tersebut sering tergopoh-gopoh
menghadapi awak media?
Pertama, karena masalah kompetensi. Jika
seorang pejabat membaca pidato atau berbicara dihadapan staf atau juga
masyarakat, umumnya apa yang disampaikan sudah dipersiapkan, sementara dalam
rapat dengan bawahan, umumnya bersifat satu arah. Berbeda ketika menghadapi wartawan
khususnya dari media nasional, maka pertanyaannya bisa melebar atau sangat
kritis. Jika ia adalah pemimpin karbitan maka akan banyak jawabannya terdengar
konyol. Pasalnya pada momen door stop ia harus bersuara.
Kedua, menggambarkan mindset. Ada banyak
pimpinan yang memiliki prilaku yang buruk. Entah itu angkuh, menganggap dirinya
smart atau berbeda dari masyarakat kebanyakan, maka dalam sebuah diskusi yang menohok
akan membangkitkan egonya. Kondisi emosional membuat seorang pejabat sulit
menutupi karakter pribadi yang sesungguhnya. Maka kita sering menyaksikan
perilaku konyol dari para pungawa, mulai dari kata-kata makian, amarah dan
lain-lain.
Jadi bagaimana seharusnya seorang pejabat menghadapi awak
media?
Tentu saran terbaik adalah banyaklah membaca, perluas
pengetahuan dan ubahlah mindset bahwa pejabat sesungguhnya suruhan masyarakat,
bukan raja atau pangeran. Saran berikutnya latihlah cara berkomunikasi yang
baik. Seorang pejabat harus memahami tentang pemilihan bahasa dan mampu memperkirakan kesan yang muncul di benak pendengar dari setiap
kata yang ia ucapkan. Biasakan untuk menggunakan kata-kata santun, serta
penyampaian yang lugas dan sistematis.
Ini semua membutuhkan proses belajar. Kabar buruknya, pejabat karbitan akan kesulitan menguasai hal itu dalam waktu singkat. Ujung-ujungnya tetap menjadi santapan para awak media.

No comments:
Post a Comment